DESAIN DAN SKENARIO PENGEMBANGAN MESJID SEBAGAI SENTRAL UMAT ISLAM
DESAIN SKENARIO PENGEMBANGAN MESJID
SEBAGAI SENTRAL UMAT ISLAM
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Desain Skenario Pengembangan Masyarakat Islam
Disusun Oleh:
Muhammad Gufron Harahap
NIM: 14 303 00012
Dosen Pembimbing:
Zilfaroni, M.A
PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM SEM.
VII
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PADANGSIDIMPUAN
TAHUN AJARAN 2016/2017
DESAIN SKENARIO PENGEMBANGAN MESJID
SEBAGAI SENTRAL UMAT ISLAM
A. Latar Belakang
Pernahkah kita coba menghitung bangunan Masjid yang ada
di wilayah sekitar kita saat ini? Boleh dikatakan, Indonesia hari ini punya
banyak sekali Masjid. Boleh jadi bangunannya jauh lebih megah dari
bangunan-bangunan Masjid yang ada di zaman dahulu. Masjid merupakan wahana atau
tempat yang digunakan umat islam untuk melakukan aktifitas ibadah. Tidak kalah
pentingnya masjid juga mempunyai peranan yang sangat dibutuhkan umat islam
dalam menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran islam itu sendiri. Di
desa, di kota, di kompleks perumahan, dan bahkan di pusat perbelanjaan seperti
swalayan, Ramayana, ITC, dan mal-mal yang merupakan tempat yang sering
dikunjungi setiap orang dapat kita temukan masjid. Jadi tidak ada alasan bagi
kita untuk meninggalkan perintah ALLAH yakni dengan memakmurkan masjid (Rumah
ALLAH).
B. PEMBAHASAN
Sebuah
hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Muhammad
SAW sesampai di Madinah adalah membangun masjid. Betapa pentingnya arti sebuah
masjid, Nabi SAW juga menyempatkan diri membangun masjid di Quba’ meskipun
beliau hanya tinggal di situ selama empat hari saja. Hal berikut ini menjadi
bukti bagaimana pentingnya mesjid di masa Rasulullah SAW.
1. Tempat
yang dibangun pertama kali saat Rasulullah hijrah adalah masjid. Bahkan sebelum
sampai kota Madinah, Rasulullah membangun Masjid di Quba.
2. Rasulullah
menyampaikan wasiat, nasehat, perintah kepada para sahabatnya yang akhirnya
kepada umatnya di masa selanjutnya melalui mimbar masjid.
3. Rasulullah
mengajak sahabat-sahabat berdiskusi di dalam masjid untuk memikirkan umat serta
dakwah Islam. Mendengarkan keluhan-keluhan sahabatnya, juga membicarakan apa
yang akan mereka capai dan kerjakan untuk melebarkan sayap dakwah.
4. Masjid
selalu penuh dengan sholat berjamaah, untuk seluruh waktu sholat, bahkan tidak
ada bedanya jamaah sholat subuh dan sholat jumat.
5. Masjid
menjadi pusat, dalam arti harfiah. Bangunan-bangunan, sentra-sentra aktivitas
masyarakat dibangun dekat dengan masjid, hal ini dengan maksud agar tidak
ketinggalan sholat berjamaah di masjid bersama Rasulullah.
Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi masjid semakin
sentral. Di dalam kompleks masjid di bangun sekolah, perpustakaan,
laboratorium, dan observatorium. Masjid menjadi tempat yang paling banyak
dikunjungi orang daripada tempat lainnya pada masa kejayaan Islam. Orang
pergi ke masjid tidak hanya berniat beribadah di dalamnya, tetapi juga menuntut
ilmu dan berdiskusi.
Sebaliknya,
kondisi masjid dewasa ini jauh dari kondisi masjid zaman Rasulullah. Fakta-fakta yang bisa kita lihat sangat
bertolak belakang dengan model ideal tersebut. Beberapa fakta yang dapat
kita saksikan tentang masjid dewasa ini adalah:
1. Masjid
besar dan banyak namun sepi jama’ah. Dari segi kuantitas memang demikian. Namun siapa sangka negri
yang 90% nya terdiri dari kaum Muslimin hanya memperbanyak masjid tanpa
memperbanyak “pengunjung”nya. Seakan adanya masjid sudah amat dilupakan. Adanya
masjid sama seperti ketiadaannya.
2. Toilet
masjid dapat dipastikan kondisinya kotor dan bau, sehingga tidak mencerminkan
umat Islam mencintai keindahan dan kebersihan. Belum lagi karpet atau alas yang
tidak pernah dicuci atau lantai tidak pernah disapu. Hal ini menimbulkan
pertanyaan, bagaimana kita bisa khusyuk untuk bercengkerama dengan Allah jika
kita selalu diganggu dengan aroma tidak sedap serta sirkulasi udara yang tidak
baik?.
3. Masjid
dikelola apa adanya tanpa manajemen yang baik, bahkan hanya menggunakan
manajemen kekeluargaan. Bahkan tidak sedikit masjid yang menggunakan sistem
“kesadaran”. Karena tiadanya pengurus yang tetap yang mau ditunjuk. Jadi hal
yang berkaitan dengan sirkulasi masjid hanya diurus oleh orang “yang mau”
mengurus saja. Itu pun jikalau ada yang sadar akan hal tersebut.
4. Masjid
hanya untuk ibadah ritual sholat tidak memaksimalkan potensinya yang besar.
Tidak ada aktivitas selain waktu sholat, setelah itu masjid sepi dan dikunci.
5. Jama’ah
masjid terbesar adalah orang-orang tua, sepi dari remaja maupun pemuda..
Generasi muda cenderung tidak ke masjid karena tidak ada sesuatu menarik bagi
mereka. Daya tarik itu ternyata diberikan oleh institusi-institusi diluar
Masjid yang belum tentu memberikan pengajaran nilai-nilai Islam dalam
aktivitasnya bahkan bisa jadi malah bertentangan dengan nilai nilai Islam.
6. Remaja
dan pemuda enggan aktif di organisasi remaja masjid karena dominasi orang tua
yang tidak memberikan ruang gerak bagi remaja masjid.
Optimalisasi fungsi dan peran masjid sebagai pusat pembinaan ummat, tidak
mungkin dapat dikelola oleh satu atau sekelompok kecil orang, tetapi harus
melibatkan semua komponen masyarakat yang berada disekitarnya. Cara ini dapat
menyentuh hati masyarakat sehingga mereka merasa memilikinya. Keterlibatan
mereka dalam melaksanakan fungsi masjid memerlukan manajemen pengelolaan yang
baik sehingga semua komponen masyarakat merasa terlibat dan ada rasa memiliki
terhadap masjid tersebut. Dari situlah akan timbul tanggung jawab untuk
sama-sama meramaikan dan merawatnya dengan baik.
Di antara kegiatan yang dapat kita lakukan sebagai bentuk
pengoptimalisasian masjid dalam rangka membangun masyarakat islam adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai
tempat ibadah
Sesuai dengan namanya, Masjid adalah tempat sujud,
maka fungsi utamanya adalah sebagai tempat ibadah shalat. Maka yang seharusnya bagi
setiap Muslim untuk memakmurkan Masjid dengan sholat berjamaah lima waktu,
khususnya sholat Subuh yang dilanjutkan dengan kajian dan bahas masalah riil
ummat.
2. Sebagai
tempat menuntut ilmu
Pengurus
Masjid memulai membangun tradisi khusus sholat subuh berjamaah yang disusul
dengan kuliah tafsir, aqidah, fiqih singkat sekitar 15 menit dan tanya jawab
hingga total 30 menit. Diharapkan dengan kegiatan ini, pemahaman umat akan
agama Allah semakin kuat maka ikatan mereka dengan tali agama Allah semakin
erat. Disamping itu juga ilmu-ilmu lain, baik ilmu alam, sosial,
humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di Masjid
3. Sebagai
pusat informasi
Sebagai pusat informasi dan
pengembangan ilmu, masjid dapat membuka taman bacaan atau perpustakaan yang
dilengkapi dengan fasilitas internet. Selain itu dibuat juga pelatihan yang
berguna untuk pengembangan potensi masyarakat seperti pelatihan computer
dan kewirausahaan.
4.
Sebagai tempat pembinaan jama’ah
Sebagai
pusat pembinaan akidah, ibadah dan akhlak, masjid dapat difungsikan sebagai
tempat pelaksanaan kegiatan majelis taklim, baik kaum bapak, remaja, dan
ibu-ibu. Bahkan masjid dapat pula dijadikan tempat belajar bagi anak-anak
dengan menggelar atau membuka taman pendidikan Al Qur’an (TPA).
5.
Sebagai
pusat da’wah dan kebudayaan Islam
Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang
selalu berdenyut untuk menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di
Masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan
da’wah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Untuk
menunjang kegiatan dakwah, dibentuk ikatan da’I dan muballigh yang dapat
mewadahi gagasan-gagasan baru tetang dakwah sehingga strategi dakwah semakin
bervariasi.
6.
Sebagai pusat kaderisasi umat
Masjid memerlukan aktivis yang berjuang menegakkan
Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh hilang berganti.
Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di Masjid sejak
mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al
Quraan (TPA), Remaja Masjid maupun Ta’mir Masjid beserta kegiatannya.
7.
Sebagai
pusat peningkatan ekonomi umat
Sebagai pusat gerakan dakwah
bil hal, masjid seharusnya dapat difungsikan sebagai tempat pelaksanaan
peningkatan ekonomi umat dengan didirikan Baitul Mal wa Tanwil (BMT),
koperasi, penyewaan ruangan untuk resepsi dan sebagainya. Selain Biro perjalanan adalah:Kegiatan usaha yang bersifat komersial yang
mengatur, dan menyediakan pelayanan bagi seseorang,sekelompok orang, untuk
melakukan perjalanan dengan tujuan utama berwisata.
8. Sebagai wadah kegiatan social
Islamic
mentoring consulting
merupakan salah satu kegiatan yang sesuai dikembangkan di masjid berupa kegiatan pendidikan dan pembinaan agama Islam dalam bentuk pengajian kelompok kecil yang
diselenggarakan rutin tiap pekan dan berkelanjutan. Akan lebih efektif
jika di mesjid didirikan kantor Islamic mentoring consulting.
Selain itu masjid juga dapat menfasilitasi kegiatan social lainnya,
seperti rihlah dakwah dan perjalanan wisata. Untuk itu di mesjid perlu
didirikan Kantor Biro perjalanan sebagai
kegiatan usaha yang bersifat
komersial yang mengatur, dan menyediakan pelayanan bagi seseorang,sekelompok
orang, untuk melakukan perjalanan dengan tujuan utama dakwah maupun wisata.
Kegiatan-kegiatan islami yang diadakan bisa mengoptimalisasikan masjid
sebagai sarana dakwah. Juga bisa menjadikannya sebagai pusat pengembangan
masyarakat. Masyarakat tentu harus diajak untuk bersatu padu dalam
mengoptimalisasian masjid sebagai sarana pengembangannya.
Prof Jimly Assiddiqy (2015) mengatakan, idealnya sebuah masjid memiliki
hubungan yang kuat dengan elemen-elemen penting di tengah umat Islam. Masjid dalam pandangan Jimly Assiddiqy
harus memiliki hubungan yang kuat dengan istana, dengan kampus, pasar dan
pemukiman masyarakat. Artinya, peran masjid seharusnya lebih luas dari yang
kita pahami selama ini.
Reposisi masjid. Masjid sebagai pusat peradaban Islam ditandai dengan proses pengelolaannya yang
sesuai dengan tuntuan zaman dan kebutuhan umat.
Pertama, masjid dan istana.
Menurut Prof Jimly, masjid seharusnya mampu menguasai istana, bukan sebaliknya
masjid dikuasai untuk kepentingan penguasa. Artinya, masjid diharapkan mampu
mempengaruhi kebijakan penguasa agar kebijaknnya terintegrasi di dalamnya
nilai-nilai Islam. Hal ini sangat wajar mengingat
sebuah istana kekuasaan sangat identik dengan hawa nafsu. Maka di sinilah letak
pentingnya fungsi masjid untuk memberi ruh ke dalam istana. Oleh sebab itu,
menurut Prof Jimly, pengelolaan masjid harus memiliki derajat independensi agar
bisa memberikan sinar dan cahaya bagi kekuasaan. Inilah pola hubungan
masjid-istana yang diharapkan.
Kedua, masjid dan pasar. Ada
sebuah hadis Nabi Muhammad saw yang menjelaskan bahwa sebaik-baik tempat di
muka bumi adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Itu karena
pasar identik dengan kerusakan, setidaknya begitulah rekaman sejarah dalam
perkembangan umat manusia sehingga lama kelamaan terjadi semacam upaya
penjauhan masjid dengan pasar. Oleh sebab itu, dalam konteks peradaban Islam, sesungguhnya pasar mestilah disinari oleh cahaya
masjid. Saat dunia dipegang oleh tatanan sistem ekonomi Neoliberal yang
menghancurkan dan menindas, maka masjid diharapkan kembali memberikan
pengaruhnya bagi dinamika pasar dan untuk melawan dominasi ekonomi neolib
tersebut.
Ketiga, masjid dan kampus. Prof
Jimly menjelaskan, pemikiran ilmiah dana akademis di kampus sudah seharusnya
lebih dekat dengan ajaran Islam dan tidak
keluar dari frame dasar-dasar Islam. Dinamika di Indonesia dalam hal ini dewasa ini
dirasa cukup mencerahkan dengan terjadinya proses integrasi masjid dan kampus.
Bahkan sejak awal, dinamika ini telah melahirkan gerakan intelektual Islam besar semacam Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI).
Keempat, masjid dan pemukiman
keluarga. Hubungan masjid dan pemukiman masyarakat niscaya harus mendapatkan
perhatian maksimal dari semua kalangan, bagaimana agar ruh masjid tersinari
dalam pemukiman warga. Masjid harus
menjadi sentral peradaban Islam yang diawali
dari pembinaan masjid terhadap warga secara menyeluruh, suatu harapan yang
nampaknya tidak muluk-muluk sekali sekiranya fungsi masjid bisa direvitalisasi
ulang, sesuai dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan apa yang dicontohkan
Rasulullah saw di masa hidupnya dengan menjadikan masjid sebagai basis
pergerakan membangun peradaban Islam. Hubungan masjid-pemukiman warga tidak diragukan
lagi harus semakin efektif mengingat karena dari keluarga lah Islam bisa membentuk akhlak bangsa.
Upaya-upaya reposisi masjid sebenarnya telah diupayakan berbagai aktivis
masjid sejauh ini. Bahkan, di level dunia Islamtelah berdiri Forum Silaturrahmi Masjid Serantau (Forsimas) yang sedang
berjuang menyatukan masjid di kawasan Asean khususnya, dan dunia Islam umumnya. Forsimas adalah sebuah jaringan
masjid dunia yang dirintis oleh seorang tokoh Aceh, M Hasan Basry, mantan Dekan
Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Komentar
Posting Komentar